Aku Rindu Ibu Ya Allah (KISAH NYATA)




Aku seorang anak asli Makassar yang mempunyai seorang ibu yang kini selalu ku rindukan. Sungguh, sangat sulit rasanya untuk mengungkapkan perasaan rindu ini. Karena begitu manis kenangan beliau yang selalu tersimpan di memoriku sebelum beliau di panggil Allah swt. ya ibuku tercinta telah wafat. Ibuku seorang wanita cantik baik lahir maupun batinnya.

Beliau merupakan anak ke tujuh dari 8 bersaudara. Sebenarnya menurut saya, beliaulah yang paling menonjol di banding saudara saudaranya yang lain. Ibuku termasuk cerdas dan pintar. Beliau adalah bintang pelajar di sekolahnya dulu. Terlebih pada pelajaran berhitung seperti matematika dan fisika bahkan beliau pernah mengikuti sebuah lomba cerdas cermat fisika yang di adakan oleh sebuah stasiun televisi swasta kalau tidak salah TVRI. Hal inilah yang membuatku jatuh cinta pada kedua pelajaran tersebut meskipun aku tidak sehebat ibuku. Di samping beliau sangat menonjol di bidang akademis, beliau sangat berbakti kepada kedua orang tuanya. Terutama kepada nenek, yang amat terpukul dengan wafatnya sang anak tercinta.

Beliau juga sangat berbakti kepada ayahku, yang mana kami belum pernah menyaksikan mereka berselisih di depan kami dan tidak pernah menampakkannya.sungguh sangat jarang wanita seperti ibuku.

Ketika tiba sore hari, beliau selalu menggoreng pisang untuk di bagikan kepada tetangga tetangganya, bahkan kepada pedagang asongan yang kebetulan lewat , tak jarang ibu memberi bagian pula kepada mereka.sungguh sebuah kenangan yang sangat sedih apabila hal itu di ingat ingat kembali.

Beliau sangat terobsesi dengan kisah kisah para shohabiyyat (sahabat dari kalangan wanita) terutama kepada istri rasulullah salaallahu'alaihi wasallam, khadijah. Dan beliau sangat gemar menyendiri untuk bangun sholat tahajjud ketika kami telah terlelap. Suatu ketika, saya terbangun lantaran mendengar suara tangisan yang amat menyayat. Ketika ku selidiki ternyata itu suara ibuku tercinta yang sedang merintih kepada Allah ta'ala. Beliau gemar sekali mendengar kan murattal Al Quran seakan akan itulah santapan beliau setiap detiknya. Ketika saya lulus dari SMP, saya di masukan kesebuah pesantren di jawa tengah atas kemauanku sendiri tepatnya di solo. Hal ini sangat membahagiakan ibuku terlebih beliau penggemar berat bahasa arab. Karena bahasa itulah yang di pakai Allah didalam Al Quran, dan di pakai oleh rasulullah , sahabatnya beserta para ulama.

Tentu malam harus berganti dengan siang, begitu pula sebaliknya. Memang orang yang baik itu selalu di musuhi dan di benci. Hingga suatu ketika ibuku pun sempat di hujani berbagai fitnah dan tuduhan keji. Suatu malam, ayahku mendapat sebuah SMS yang berisi hinaan dan tuduhan bahwa ibuku itu suka mengadu domba keluarga dan hanya mencari harta ayahku semata. Ibuku pun hanya bisa menangis sembari terduduk mendoakan kasih sayang agar Allah memaafkan mereka.ibuku tak berkata apa apa.lantas ayahku langsung membalasa SMS tersebut "Wahai kakak... aku sebetulnya cukup terkejut akan SMS yang engkau kirimkan barusan tentang istriku ini. Namun demi Allah! Aku tidak pernah mendapati ia dimalam hari, kecuali selalu bangun untuk shalat malam dan selalu menangis memelas kepada Tuhannya!."

Hingga tibalah saatnya , sang ibu harus berpisah dengan anak anaknya untuk selamanya. Sebenranya hal ini tidak ingin saya sampaikan karena jujur saja saya melukiskannya dengan air mata lantaran tidak sampai hati untuk mengingat saat itu kembali. Semoga beliau di tempatkan di sisi Allah yang tertinggi.....

Hari senin ba'da shubuh, ayahku kembali dari jawa setelah mengantarkan saya ke pesantren dan tiba di rumah. Ibuku pun menyambut ayah dengan sambutan yang hangat dan lembut. Ibu saya berbaring di pangkuan ayah saya seperti biasanya kemudian beliau minta di bacakan Al Quran... ketika ayah membacakan Al Quran ibuku terlihat seakan akan tertidur di pangkuan ayahku. Ketika bacaan telah ayah rasakan cukup, beliaupun menghentikan bacaan Al Quran nya. Ternyata ibuku tidak bangun bangun. Dan ternyata itulah akhir dari hayat beliau untuk selamanya...

Beliau wafat ketika Al Quran di bacakan kepadanya...
Kini semua tinggal kenangan.... Suara murottal Al Quran di pagi hari itu pun terhenti...
Suara gorengan pisang itu sudah tak ada lagi....
Suara tangsian rindu itupun ikut terhenti.....
Aku sungguh rindu pisang goreng buatan ibu.....
Apabila jam 5 tiba lantas lewat lah pedagagng asongan yang biasanya di beri gorengan itu...
aku pun tersentak...teringat ibu...,.......

Suatu ketika , setelah ibuku meninggal beberapa hari....nenekku bermimpi...Bahwa nenekku berjalan di padang bunga indah nan luas..di tengahnya ada istana besar putih indah....Sang nenek pun masuk dan bertanya kepada seorang pelayan disana "Apakah engkau tahu dimana anak putri ku berada?"Sang pelayan menjawabnya:" Sesungguhnya putrimu tempatnya bukan di sini...akan tetapi tempat dia adalah yang paling atas disana."

Nasehat ku bagi kalian yang masih memiliki ibu...
Telponlah ia....
Beri ia hadiah...
Pergilah ke rumahnya...
Dan jangan sia-siakan ibumu...

"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri"."(QS. Al Ahqaf :15)


Kisah ini asli di tulis oleh Admin Suara Madinah berdasarkan informasi dari anak dari ibu tersebut..namun nama dan privasi di rahasiakan atas saran beliau...11 maret 2014.

Demikian sobat yang bisa saya share kepada kalian, semoga bisa bermanfaat bagi kita semua, aamiin...

See You

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Aku Rindu Ibu Ya Allah (KISAH NYATA)"

Post a Comment